
BLAK-BLAKAN dan kharismatik, Lucio bicara layaknya seorang anarkis sejati. Bila ditanya apa maknanya menjadi seorang anarkis, Lucio menolak anggapan keliru tentang anarkis sebagai teroris, “Anarkis adalah seorang yang baik di hatinya, seorang yang bertanggung jawab.” Namun, dia tidak berapologi sedikitpun tentang kebutuhan untuk menghancurkan tatanan sosial yang kini berlangsung, “baguslah kiranya menghancurkan hal-hal tertentu, karena itu berarti kamu membangun hal-hal baru untuk menggantikannya.”
Lucio punya teman-teman lama di Southern Cone . Dana dari para pekerja pemalsuan membantu ratusan orang dari organisasi-organisasi revolusioner yang sedang berada di pengasingan dan membiayai aksi-aki bawah tanah untuk melawan kediktatoran-kediktatoran bengis yang telah melenyapkan puluhan ribu aktivis, mahasiswa dan pekerja sepanjang 1970-an di seluruh Amerika Latin. Di Uruguay, dana dari cek-cek perjalanan Citibank yang dipalsukan mendanai kelompok gerilyawan Tupamaros, juga mendanai Black Panthers di Amerika Serikat dan kelompok-kelompok revolusioner lainnya di seluruh Eropa.
Selama kunjungannya baru-baru ini ke Amerika Selatan, Lucio menginap di Hotel BAUEN yang dikelola oleh para pekerja di ibu kota Argentina, Buenos Aires. Dia takjub melihat kecakapan para pekerja tanpa majikan itu. Di Hotel BAUEN, para pekerja mempraktekkan autogestíon atau swakelola. Swakelola telah menjadi arus utama pemikiran anarkis sejak kelahiran kapitalisme. Bukan hubungan otoritas-kepatuhan antara kapitalis dan pekerja, sebaliknya swakelola justru menyiratkan bahwa pekerja mempraktekkan sebuah sistem egaliter dimana orang-orang secara bersama memutuskan, menghasilkan dan mengontrol nasibnya sendiri demi kemanfaatan komunitas. Tapi agar sistem seperti itu bisa berjalan, para pesertanya haruslah gigih bekerja dan bertanggung jawab, salah satu ciri paling penting yang menurut Lucio hendaknya dimiliki seorang lelaki ataupun perempuan. “Gerakan anarkis dibangun oleh pekerja. Tanpa kerja, kita tak bisa bicara tentang swakelola. Untuk mempraktekkan swakelola, kita perlu mengetahui bagaimana melakukan berbagai hal, bagaimana bekerja. Kalau hanya menjadi bohemian, itu mudah.”
Lucio menjelaskan bahwa anarkismenya bersumber dari masa kanak-kanaknya yang miskin di Spanyol pada masa kekuasaan fasis. “Asal-usul anarkis-ku berakar pada pengalamanku tumbuh besar di dalam sebuah keluarga miskin. Ayahku adalah seorang kiri, dipenjara karena dia menginginkan otonomi untuk negeri Basque. Bagiku, itu bukanlah revolusi, aku bukan seorang nasionalis. Dengan nasionalisme, umat manusia telah melakukan banyak kesalahan. Setelah keluar dari penjara, ayahku menjadi seorang sosialis. Kami sangat menderita. Aku sering pergi mencari roti dan tukang roti tidak mau memberikannya kepadaku, karena kami tidak punya uang. Bagiku, kemiskinan telah menyuburkanku, aku tidak perlu susah-susah berusaha untuk bisa kehilangan rasa hormatku kepada kemapanan, Gereja, properti pribadi dan Negara.”
Di Spanyol, fasisme mampu bertahan sampai 30 tahun setelah berakhirnya Perang Dunia II. Ratusan orang dipenjarakan karena melawan kediktatoran Franco. Para antropolog memperkirakan bahwa dari awal Perang Sipil Spanyol pada Juli 1936 sampai matinya Franco pada November 1975, kaum Nasionalis Franco membunuh sekitar 75.000 sampai 150.000 orang pendukung Republik itu.
Lucio melarikan diri ke Perancis, dimana dia menemukan anarkisme. Dia disersi dari ketentaraan nasionalis dan lari ke Perancis. Paris pada tahun 1960-an merupakan kota yang subur bagi para intelektual, pengorganisir dan gerilyawan anarkis yang berada di pengasingan. Di sanalah Lucio bertemu dengan anggota-anggota serikat buruh anarko-sindikalis Confederación Nacional de Trabajo (CNT). Dia pun ingin sekali bergabung dengan CNT.
Selama tahun-tahun awalnya di Perancis, Lucio bertemu dengan Francisco Sabate, seorang anarkis legendaris dan gerilyawan yang luarbiasa. Di masa ini, Sabate, yang juga dikenal dengan nama panggilan “El Quico”, merupakan anarkis yang paling dicari-cari oleh rezim Franco. Polisi Perancis juga mencari-cari Sabate, yang memimpin perlawanan terhadap Franquismo. “Saat bertemu Quico, aku sedang tergabung dalam Juventud Libertarias. Mereka bertanya apakah aku bisa membantu Sabate. Bayangkan, aku, orang yang tidak tahu apa-apa, aku bahkan tidak tahu siapa itu Quico.” Sabate menggunakan rumah Lucio sebagai tempat persembunyian. Lucio muda mendengarkan cerita-cerita Sabate tentang aksi langsung dan menyerap kearifan apapun yang bisa disampaikan oleh Sabate, misalnya tentang cara-cara untuk mengendus adanya penyusup. “Aku bertemu dengan para gerilyawan yang membawaku ke jalan menuju aksi langsung dan pengambil-alihan. Sabate mengajariku untuk tidak menghormati properti pribadi.”
Ketika itulah Lucio mulai ikut serta dalam perampokan-perampokan bank. “Tak ada bajingan yang lebih besar daripada bank,” kata Lucio saat membela pengambil-alihan. “[Inilah] satu-satunya cara yang dipunyai anarkis, tanpa dana dari industri dan tanpa ada wakil-wakil pemerintahan yang membiayai mereka. Uang itu dikirimkan kepada orang-orang yang menderita akibat tindakan rezim Franco.” Organisasi mahasiswa dan organisasi buruh mendapatkan dana itu untuk melakukan pengorganisiran akar rumput. Pada contoh lain, uang itu digunakan untuk aksi-aksi langsung gerilya melawan rezim Franco, misalnya kampanye untuk pembebasan tahanan politik di penjara-penjara nasionalis.
Untuk menyelamatkan hidup orang-orang yang berada di pengasingan, Lucio memikirkan sebuah rencana besar untuk memalsukan paspor agar warga Spanyol bisa bepergian. “Paspor untuk pengungsi berarti bisa melarikan diri ke luar negeri da menjalani hidup yang aman di tempat lain,” jelas Lucio. Bukan hanya di Eropa, tapi juga di AS dan Amerika Selatan, para pembangkang menggunakan kartu identitas palsu untuk menjalani hidupnya dan melakukan aksi-aksi langsung.
Pada tahun 1977, kelompok Lucio mulai memalsukan cek sebagai bentuk langsung untuk membiayai gerakan perlawanan. Secara esensial, Lucio adalah “bos” dari operasi ini – dia membuat, membagikan dan mencairkan cek-cek itu. Cek lebih sulit dipalsukan daripada uang kertas. Lucio berpikir bahwa mereka harus mentarget lembaga perbankan terbesar di dunia, National City Bank. Distribusi cek-cek tersebut mengalir ke berbagai kelompok subversif yang menggunakan dana itu untuk membiayai aksi-aksi solidaritas. Lucio menjelaskan bahwa “tak seorang pun yang menjadi kaya” karena cek-cek itu. Sebagian besar dana itu digunakan untuk tujuan aksi solidaritas. Di seluruh Eropa, cek-cek dengan nomor kode yang sama ini dicairkan pada waktu yang sama.
Rancangan besar Lucio ini merugikan City Bank sejumlah puluhan juta dolar akibat cek-cek perjalanan palsu. Tapi banyak yang mengatakan bahwa jumlah yang jauh lebih besar telah diambil-alih. City Bank tak berdaya menghadapi pemalsu, yang telah merugikan begitu besar hingga bank ini terpaksa menangguhkan cek-cek perjalanan, yang berarti menggagalkan liburan bagi ribuan wisatawan. Pada masa itu, orang belum menggunakan kartu cek ataupun kartu kredit. Lucio ditangkap pada tahun 1980 dan didapati membawa sebuah tas koper yang penuh dengan cek palsu. Sementara itu, selama penahanan Lucio, Citibank terus mendapat cek-cek perjalanan palsu.
Citibank menjadi khawatir. Wakil-wakil dari bank itu setuju untuk berunding. Lucio akan dilepas jika dia menyerahkan plat-plat master untuk mencetak cek-cek palsu tersebut. Pertukaran pun terjadi, dan Lucio menjadi seorang legenda karena rancangan cemerlangnya itu. Meski hidupnya sebagai pemalsu dokumen berakhir pada usia 50, namun hidupnya sebagai seorang anarkis terus berlanjut.
Lucio selalu bekerja sebagai tukang batu. “Yang paling membantuku adalah pekerjaanku. Anarkis selalu adalah pekerja.” Lucio – si tukang batu, anarkis, pemalsu dokumen dan pengambil-alih – telah meninggalkan warisan seperti halnya para pendahulunya. “Orang-orang seperti Loise Michel, Sabate, Durruti, semua pengambil-alih itu mengajariku bagaimana mengambil-alih, namun bukan untuk keuntungan pribadi, melainkan bagaimana menggunakan kekayaan itu untuk perubahan.” Pada usia 76 tahun, dia tidak meminta maaf atas aksi-aksinya. “Aku telah melakukan pengambil-alihan, yang mana menurut agama Kristen adalah perbuatan dosa. Bagiku, pengambil-alihan itu perlu. Sebagaimana yang dikatakan oleh para revolusioner, merampok dan mengambil-alih adalah tindakan revolusioner asalkan kita tidak mengeruk keuntungan dari tindakan itu.”
-oo0oo-
Lucio Urtubia Jiménez (lahir pada tahun 1931 di Cascante, Navarre[1]) adalah seorang anarkis Spanyol yang terkenal akan praktek pengambil-alihan politis-nya. Terkadang disejajarkan dengan Robin Hood,[1] Urtubia melakukan perampokan bank dan pemalsuan dokumen sepanjang tahun 1960-an dan 1970-an. Mengutip kata-kata Albert Boadella, “Lucio adalah seorang Quijote yang tidak bertarung melawan kincir angin, melainkan melawan raksasa yang sesungguhnya.”
Biografi
Lucio Urtubia lahir di Cascante, merupakan anak kelima di sebuah keluarga yang sangat miskin. Ayahnya, seorang Carlist , dipenjarakan dan, saat di dalam penjara, mengalami peralihan ke komunisme.
Direkrut ke dinas militer, Urtubia dan kawan-kawannya membobol sebuah gudang milik kompinya, lalu disersi dan melarikan diri ke Perancis pada tahun 1954. Di Paris dia mulai bekerja sebagai tukang batu, pekerjaan yang terus dia lakukan sepanjang hidupnya. Selain itu, dia jadi terlibat dengan kalangan Libertarian Muda dari Fédération Anarchiste dan berteman dengan André Breton dan Albert Camus.
Tak lama setelah pindah ke Paris, Urtubia diminta untuk menyembunyikan di rumahnya seorang anggota Maquis, kelompok gerilyawan Spanyol yang melawan Franco dari pengasingan. Pengungsi itu ternyata adalah Francesc Sabaté Llopart yang legendaris. Sabaté tinggal bersama Urtubia selama beberapa tahun sampai kematiannya.
Sabaté memandu keluarga-keluarga dan kaum libertarian yang berada di pengasingan di Toulouse, Perpignan dan Paris serta anggota-anggota CNT Spanyol tua di Barcelona, Saragossa, Madrid dan Pamplona. Sebelum pemenjaraan Sabaté menghentikan aktivitas-aktivitas ini, Urtubia mulai meniru serangan-serangan yang biasa dilakukan Sabaté ke wilayah Spanyol. Kemudian dia melakukan serangkaian perampokan dan penodongan untuk mencari dana untuk kepentingan revolusioner. Dalam melakukan itu semua, dia selalu ditemani senapan mesin Thompson-nya yang tak terpisahkan yang dia warisi setelah kematian Sabaté.
Pada saat ini, pemalsuan dokumen oleh Urtubia telah dimulai dan tak seorang pun gerilyawan atau orang dalam pengasingan yang meninggalkan dia tanpa membawa dokumen palsu. Dia bergabung dengan kawan-kawan libertarian lainnya untuk memalsukan mata uang pada tahun 1960-an. Dengan strategi ini, mereka membiayai banyak kelompok sambil berupaya menggoncang ekonomi kapitalis. Dengan aktivitas-aktivitas ini, di tengah memanasnya gejolak akibat invasi ke Teluk Babi, Urtubia mengusulkan kepada Simeón Rose, duta besar Kuba di Perancis, untuk menghancurkan kepentingan-kepentingan Amerika di Perancis dengan menggunakan bahan peledak. Namun, tawaran ini ditolak. Kemudian dia mempresentasikan kepada Ernesto Che Guevara, Menteri Dalam Negeri Kuba, sebuah rencana untuk memalsukan dolar Amerika secara besar-besaran. Usulan ini juga ditolak, dan Urtubia pun meninggalkan pertemuan itu dengan kecewa.
Pukulan telak nan cemerlang yang merubah hidupnya adalah pemalsuan cek-cek perjalanan Citibank pada tahun 1977. Tindak kriminal ini mencakup 8.000 copy dari 25 cek yang masing-masing senilai 100 dolar dan merugikan bank ini begitu parahnya hingga harga sahamnya jatuh. Uang yang dicuri ini digunakan, seperti biasanya, untuk membantu gerakan-gerakan gerilya di Amerika Latin (Tupamaros, Montoneros, dll.) dan Eropa. Kendati pemalsuan itu begitu hebat dan menghebohkan, Urtubia hanya dijatuhi hukuman penjara 6 bulan berkat kesepakatan ekstrayudisial dengan Citibank yang menurunkan tuntutan-tuntutannya sebagai pertukaran dengan plat-plat pencetak cek milik Urtubia.
Hidupnya adalah petualangan terus-menerus: menjadi target lima tatanan internasional, termasuk CIA; dia merancang penculikan tokoh Nazi, Klaus Barbie, di Bolivia; berkolaborasi dalam upaya pelarian pemimpin Black Panthers; membantu upaya penculikan Javier Rupérez;menjadi perantara dalam kasus Albert Boadella; dan bekerjasama dengan Movimiento Ibérico de Liberación dan kemudian dengan Groupes d'action révolutionnaire internationalistes. Dia selalu membela pekerjaannya dengan mengatakan, “Kami adalah tukang batu, tukang cat, tukang listrik – kami tidak butuh negara untuk apapun”; “Kalau memang pengangguran dan marjinalisasi menciptakan kaum revolusioner, pastilah pemerintahan-pemerintahan itu sudah mengakhiri pengangguran dan marjinalisasi.” Urtubia terus tinggal di Paris, dan kini dia pensiun.
Minggu, 23 Januari 2011
LUCIO, SI BANDIT BUDIMAN: REFLEKSI SEORANG ANARKIS
Kamis, 23 Desember 2010
PANJANGUMUR ANARKI!
Severino Di Giovanni (1901-1931), adalah seorang anarkis kelahiran Italia yang kemudian pindah ke Argentina, di mana ia menjadi anarkis yang paling terkenal atas aksi kekerasannya di negeri itu. Sebagian besar aksinya ditujukan sebagai bentuk dukungan untuk Sacco dan Vanzetti juga sebagai bagian dari proyek anti-fasis.
Anarkis yang menyukai kopi manis ini dilahirkan pada 17 Maret 1901, di kota Chieti, di Abruzzo (Italia), sekitar 180 km dari Roma. Dia dibesarkan pada era pasca-perang dunia pertama, di mana kelaparan, kemiskinan dan tentara yang terluka memenuhi jalanan. Kenyataan ini membawa dampak besar terhadap ide-ide Di Giovanni selanjutnya. Ia mengikuti kursus untuk menjadi seorang guru, dan segera mulai mengajar di sebuah sekolah di kotanya bahkan sebelum lulus dari kursus tersebut. Secara otodidak Di Giovanni juga mempelajari seni tipografi, selain membaca Bakunin, Malatesta, Proudhon, and Élisée Reclus pada masa-masa senggangnya.
Di Giovanni mulai memberontak melawan penguasa pada usia sangat muda. Pada usia 19 tahun ia menjadi yatim piatu, dan pada usia dua puluh tahun (1921) telah sepenuhnya mengadopsi prinsip-prinsip gerakan anarkis. Dia menikahi Teresa Masciulli, pada 1922. Di tahun yang sama pada bulan maret, Black Shirt (grup paramiliter Mussolini) mengambilalih kekuasaan di Roma. Giovanni dan Teresa memutuskan untuk pindah ke Argentina, di mana ia segera terlibat dengan para anarkis dan gerakan anti-fasis di sana.
KEDATANGAN DI ARGENTINA
Anarkis yang beristrikan gadis dari Chieti ini, tiba di Buenos Aires bersama gelombang besar terakhir imigran Italia yang masuk Argentina sebelum Perang Dunia II, kebanyakan imigran ini adalah orang-orang miskin dan kurang pendidikan. Dia tinggal di daerah Morón namun pergi ke Buenos Aires tiap hari untuk berpartisipasi dalam rapat dan rencana aksi melawan fasisme dan pendukung diktator fasis Italia di Argentina. Banyak anarkis asal Italia yang berimigrasi ke Argentina. Bahkan sampai hari ini, Argentina tercatat sebagai negara yang memiliki kelompok anarkis terbesar dari semua negara di Amerika Selatan.
Giovanni cenderung lebih dekat dengan faksi radikal anarkis Argentina, seperti mereka yang ada di lingkaran Ramón González Pachecho dan Teodoro Antilla dari majalah La Antorcha, dibandingkan dengan FORA (Federasi Regional Pekerja Argentina) dan surat kabar bersejarah: La Protesta, yang diterbitkan oleh Emilio López Arango dan dieditori oleh Diego Abad de Santillán.
Selama tahun 1920-an, Argentina dikuasai oleh Partai kiri moderat UCR, yang secara bergantian dipimpin oleh Presiden Hipólito Yrigoyen dan Marcelo Torcuato de Alvear. Sebagai seorang anarkis, Di Giovanni menyerang UCR, yang baginya tak lebih dari sekedar bayangan yang condong ke arah elemen sayap kanan dan fasis dalam politik Argentina.
`
Aksi pertama Severino Di Giovanni dilakukan pada 6 Juni 1925, pada saat berlangsungnya peringatan ke-25 tahun naiknya Victor Emmanuel III ke tahta Italia yang sedang dirayakan di Teatro Colón. Presiden Alvear beserta istri, penyanyi opera Regina Pacini, dan pangeran Luigi Aldrovandi Marescotti—Duta Besar diktator Fasis Italia—hadir pada acara itu. Sejumlah anggota Black Shirt juga disiagakan oleh Marescotti untuk mengantisipasi para perusuh. Ketika orkestra memulai lagu kebangsaan Italia, Giovanni dan kawan-kawannya menyebarkan selebaran, dan meneriakkan, "Pembunuh! Pencuri!" Pada saat itu, anggota Black Shirt bisa menangkap dan menyerahkan mereka kepada polisi.
CULMINE, SACCO & VANZETTI, DAN PROPAGANDA-DENGAN-TINDAKAN
Setelah keluar dari penjara, Giovanni ambil bagian dalam protes internasional terhadap penangkapan dan pengadilan Sacco dan Vanzetti, dua orang anarkis yang dikenal sebagai Galleanis. Sacco dan Vanzetti dituduh melakukan perampokan dan pembunuhan terhadap dua pengawal penggajian. Pada masa itu di Argentina, Giovanni adalah salah satu anarkis yang paling aktif dalam membela kedua orang tersebut yang kebetulan juga sama-sama imigran asal Italia, menulis di berbagai surat kabar, termasuk melalui Culmine, surat kabar miliknya sendiri yang didirikan pada Agustus 1925, juga di Adunata dei L'Refrattari yang diterbitkan di New York.
Culmine mendorong penggunaan aksi langsung dan propaganda-dengan-tindakan. Di Giovanni mengerjakannya pada malam hari, selain dia juga harus mendukung aktivismenya dan menghidupi keluarganya dengan bekerja di pabrik serta menjadi opseter. Di Giovanni meringkas tujuan Culmine sebagai berikut:
* Menyebarkan ide-ide anarkis di antara para pekerja asal Italia.
* Melawan propaganda pseudo-revolusioner dari partai politik, yang menggunakan ide anti-fasisme palsu sebagai alat untuk memenangkan pemilihan umum.
* Memulai agitasi anarkis di antara para pekerja asal Italia dan menjaga ide anti-fasisme tetap hidup.
* Menarik minat para pekerja asal Italia di argentina untuk melakukan protes dan pengambilalihan pabrik.
* Menciptakan kerjasama yang aktif dan berkelanjutan di antara grup-grup anarkis, mitra yang terisolasi dan gerakan anarkis regional.
Pada tanggal 16 Mei 1926, hanya beberapa jam setelah dijatuhkannya hukuman mati untuk Sacco dan Vanzetti, Giovanni mengebom kedutaan besar Amerika Serikat di Buenos Aires, yang menghancurkan seluruh bagian depan bangunan. Keesokan harinya, Presiden Alvear memerintahkan polisi melakukan pencarian orang-orang yang dicurigai dalam serangan tersebut. Polisi kemudian meminta bantuan dari Kedutaan Besar Italia untuk mengidentifikasi tersangka. Kedutaan langsung menyerahkan nama Giovanni, yang dianggap telah mengganggu perayaan di Teatro Colón. Dia ditangkap oleh polisi dan disiksa selama 5 hari, namun polisi tidak mendapat informasi apa pun. Giovanni selanjutnya dibebaskan karena kurangnya bukti.
Sementara itu, di Massachusetts pembela hukum Sacco dan Vanzetti berhasil menunda pelaksanaan eksekusi sampai 23 Agustus 1927. Gerakan yang mendukung para anarkis Galleanis ini berlanjut menjadi dorongan untuk memberikan pengampunan dan melepaskan keduanya. Pada tanggal 21 Juli 1927, Kedutaan Besar Amerika Serikat menerbitkan sebuah artikel di koran konservatif La Nación, yang menggambarkan dua anarkis asal Italia ini sebagai pelanggar hukum yang tak beretika. Keesokan harinya, Giovanni dan dua anarkis lainnya, Alejandro dan Paulino Scarfó, meledakkan patung Washington di Palermo, dan beberapa jam kemudian, sebuah bom meledak di salah satu lahan konsesi yang paling penting dari Ford Motor Company.
Dihadapkan dengan bukti keterlibatan anarkis dalam pengeboman itu, pada 15 Agustus 1927, Eduardo Santiago, petugas Polisi Federal yang bertanggung jawab atas penyelidikan, mengklaim bahwa segala sesuatu berada di bawah kendali dan bahwa tidak ada anarkis di dunia ini yang bisa mengalahkannya. Pada hari berikutnya, rumah Santiago dibom oleh Giovanni dan kelompoknya. Dia beruntung dan tetap hidup karena keluar rumah beberapa menit sebelumnya untuk membeli rokok.
Pada tanggal 23 Agustus 1927, Sacco dan Vanzetti akhirnya dihukum mati; sebagai respons, 24 jam kemudian diproklamasikan pemogokan umum di Buenos Aires, dan juga di berbagai ibukota negara lain di dunia. Beberapa hari setelah eksekusi, Giovanni menerima surat dari janda mendiang Sacco, yang berterima kasih atas apa yang dilakukannya. Janda mendiang Nicola Sacco pun memberi informasi bahwa direktur perusahaan tembakau Combinados telah mengusulkan padanya sebuah kontrak untuk memproduksi rokok dengan merek "Sacco & Vanzetti". Pada 26 November 1927, Giovanni dan rekan-rekannya mengebom toko tembakau Combinados milik Bernardo Gurevich di Rivadavia 2279. Giovanni dan rekan-rekannya pun meneruskan kampanye teror anti-Amerika Serikatnya. Markas besar Citibank dan Bank of Boston rusak parah dalam ledakan bom pada 24 Desember 1927, peristiwa ini menewaskan 2 orang dan melukai 23 lainnya.
Pada awal 1928, koran liberal berbahasa Italia di Buenos Aires, L'Italia del Popolo, menyerang Konsul Italia, Italo Capil, sebagai informan dan unsur-unsur pendukung fasis di Kepolisian Federal. Setelah diberitahu bahwa konsul akan mengunjungi kantor konsulat yang baru dengan Duta Besar baru Martin Franklin, Giovanni dan Scarfo bersaudara mengebom konsulat Italia pada 23 Mei 1928 yang menewaskan 9 orang dan melukai 34 lainnya. Pada saat itu, pengeboman konsulat Italia tersebut adalah serangan paling mematikan yang pernah terjadi di Argentina. Para penentang pemerintahan fasis Italia mencatat bahwa pemakaman pegawai konsuler dilangsungkan sesuai dengan "upacara pemakaman fasis", dihadiri oleh para duta besar dan Pangeran Martin Franklin, utusan resmi pemerintahan fasis Italia di Argentina Romualdo Materlli. Tak ketinggalan presiden Alvear serta istrinya Regina Pacini dan Jenderal Agustín P. Justo turut hadir.
Pada hari yang sama, Giovanni mencoba melakukan pengeboman pada perusahaan farmasi milik Benjamín Mastronardi di La Boca. Mastronardi adalah Ketua Komisi fasis La Boca. Namun, bom itu tanpa sengaja bisa dinonaktifkan oleh anak Mastronardi. Setelah berusaha mengebom katedral, Giovanni dicap oleh otoritas Gereja Katolik sebagai "orang yang paling jahat yang pernah berjalan di muka bumi."
Kecenderungan propaganda-dengan-tindakan yang dilakukan Giovanni memicu perdebatan sengit di dalam komunitas anarkis. Beberapa tokoh anarkis berpendapat bahwa aksi Giovanni adalah tindakan yang kontraproduktif dan hanya akan menghasilkan kudeta militer dan kemenangan bagi kekuatan fasis. Jurnal anarkis seperti La Protesta dan La Antorcha mengkritik metode aksi-langsung Giovanni dan juga kekerasan yang dianggap tidak pandang bulu. La Protesta dieditori oleh penentang keras Giovanni yang bernama Diego Abad de Santillán yang mengambil garis sikap terang-terangan anti-Di Giovanni. Sikap seorang anarko-sindikalis itu semakin mengeras tatkala pengeboman tanpa pandang bulu Di Giovanni semakin menjadi-jadi. Sementara La Antorcha lebih samar-samar dalam kritiknya, namun tetap tidak ada surat kabar yang menyukai Giovanni. Kedua surat kabar tersebut juga terlibat saling cela sekali atau beberapa kali dengan kolom yang ada di Culmine. Perang kata-kata terus meningkat, hingga pada 25 Oktober 1929 seseorang membunuh Emilio Lopez Arango, salah satu editor La Protesta. Mula-mula sekelompok tukang roti yang menjadi anggota serikat pekerja yang sama dengan Arango dicurigai sebagai pelaku pembunuhan tetapi tidak pernah ada tuntutan atas itu. Kemudian, meskipun tidak pernah terdapat bukti yang meyakinkan, Giovanni dan rekan-rekannya menjadi tersangka utama dalam pembunuhan tersebut.
La Protesta lalu mengecam pengeboman konsulat Italia. Kritik itu tidak memberi pengaruh apa-apa. Karena tiga hari setelah pengeboman konsulat Italia, Giovanni menyerang lagi di daerah Caballito, dia melakukan pengeboman di rumah Afeltra César, seorang anggota polisi rahasia Mussolini. Alfeltra banyak dituduh oleh anarkis buangan asal Italia telah melakukan penyiksaan terhadap beberapa anarkis dan kelompok-kelompok radikal anti-fasis di Italia.
Pada bulan Desember 1928, Presiden Amerika Serikat terpilih Herbert Hoover mengunjungi Argentina. Giovanni pun berencana melakukan pengeboman yang ditujukan ke kereta Hoover sebagai pembalasan dendam atas pelaksanaan eksekusi terhadap Sacco dan Vanzetti, tapi eksekutor pengeboman, Alejandro Scarfó, ditangkap sesaat sebelum menempatkan bahan peledak di rel. Tragedi ini membuat Giovanni menunda kampanye pengebomannya. Untuk sesaat kemudian dia lebih fokus pada jurnal Culmine, Pada 1929, ia menulis:
"Menghabiskan waktu yang monoton di antara orang-orang pada umumnya, yang menyerah, yang menjadi kolaborator, yang jadi konformis; bukanlah kehidupan, itu cuma tanda keberadaan diri yang membosankan, hanya pembawa, dalam bentuk kemampuan bergerak, dari sekumpulan daging dan tulang. Kehidupan butuh keindahan yang sempurna, yang hanya bisa dialami dengan pemberontakan pikiran dan kedua lengan."
Menyusul peristiwa kudeta militer September 1930, yang menggulingkan Hipólito Yrigoyen, dan digantikan oleh Jenderal José Félix Uriburu dan Agustin P. Justo, Di Giovanni berencana untuk membebaskan koleganya Alejandro Scarfó dari penjara. Memerlukan dana dalam rangka untuk menyuap penjaga penjara, ia menyerang Obras Sanitarias de la Nación pada 2 Oktober 1930, ini menjadi perampokan yang paling penting sampai saat itu di Argentina. Di Giovanni berhasil membawa pergi hasil senilai 286.000 peso. Namun, rencana pembebasan tidak pernah terjadi, dan Alejandro Scarfó tetap dalam penjara.
PENANGKAPAN DAN EKSEKUSI
Tahun 1927, Di Giovanni meninggalkan istrinya, dan memulai hubungan dengan Amerika Josefina ("Fina") Scarfó seorang gadis berusia lima belas tahun yang juga adik dari Scarfó bersaudara, Alejandro dan Paulino. Sebagai kamuflase, Fina menikahi seorang anarkis bernama Silvio Astolfi hanya agar lebih mudah dan nyaman tinggal bersama Di Giovanni, tapi lalu dengan tiba-tiba dia memutuskan semua kontak dengan keluarganya. Pada awal dekade keji yang diprakarsai oleh kudeta militer, Di Giovanni melewatkan jangka waktu yang lama dalam pengasingan diri, mengerjakan karya-karya lengkap dari Elisée Reclus. Polisi mencoba untuk menangkapnya di sebuah toko percetakan, tapi Di Giovanni berhasil melarikan diri dengan diwarnai baku tembak yang menyebabkan satu polisi tewas dan seorang lainnya luka.
Bulan Januari 1931, Di Giovanni ditangkap setelah terluka parah akibat baku tembak yang lain. Fina dan Paulino Scarfó juga tertangkap bersamanya, dua anarkis lainnya tewas dalam pertempuran itu. Di Giovanni kemudian menyatakan bahwa sekitar 300 ayam yang ditemukan di rumah mereka harus diberikan kepada orang miskin di kota Burzaco.
Junta militer menyatakan penangkapan tersebut sebagai kemenangan rezim yang baru dan mereka segera mengadakan pengadilan militer. Di Giovanni dibela oleh pengacara kompeten yang ditunjuknya, Letnan Juan Carlos Franco, yang menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan sistem peradilan dan menuduh bahwa Di Giovanni telah disiksa oleh polisi. Semangat Letnan Franco dalam membela kliennya menyebabkan dirinya sendiri kemudian ditangkap setelah sidang. Kemudian ia dipecat dari jajaran pasukan bersenjata dan dipenjarakan sebentar sebelum dideportasi dari Argentina. Semua usaha itu tetap tidak membuahkan hasil, bukti-bukti yang dipakai melawan Di Giovanni terlalu nyata, baik dia dan Paulino Scarfó kemudian dijatuhi dihukum mati; sementara Fina, karena masih di bawah umur akhirnya dibebaskan.
Dalam pamflet politik terakhirnya, yang ditulis setelah pasukan pemerintah membunuh para pekerja yang sedang berparade dalam prosesi pemakaman bagi mereka yang tewas dalam serangan kekerasan, Giovannni menulis, "Hati-hati, Uriburu (José Félix Uriburu, diktator Argentina) dan para pembunuh suruhannya; peluru kami akan mencari tubuh kalian... borjuis, industrialis, bankir, dan pemilik tanah, hati-hati... harta dan hidupmu akan dihancurkan dan dibakar!"
Beberapa jam sebelum kematiannya, Giovanni minta kopi manis untuk dibawa ke selnya. Setelah mencicipinya, dia mengembalikan kopi itu. Sambil bercanda Giovanni berkata, "Aku mau yang lebih banyak gulanya... ah sudahlah, mungkin lain kali saja."
Severino Di Giovanni dieksekusi oleh regu tembak pada tanggal 1 Februari 1931. Di Giovanni meneriakkan "Viva l'Anarchia!" (Panjang umur anarki!) sebelum diterjang sedikitnya delapan peluru 7.65mm senapan Mauser. Setelah bertukar perpisahan terakhir, Paulino Scarfó juga dieksekusi. Jenazah Di Giovanni secara rahasia dimakamkan atas perintah Menteri Dalam Negeri Matías Sánchez Sorondo, di La Chacarita. Meskipun sudah dilakukan tindakan pencegahan ini, hari berikutnya tanpa diketahui dilakukan oleh siapa, makam Di Giovanni telah berhiaskan bunga-bunga.
KETERANGAN TAMBAHAN
Setelah eksekusi Di Giovanni, Fina meninggalkan suaminya, Silvio Astolfi, sebelum akhirnya menikah lagi dan menetap dalam kehidupan yang tenang di Buenos Aires. Setelah menjalani hukuman penjara yang panjang, Silvio Astolfi kembali ke Eropa dan melanjutkan aksi-aksi anti-fasisnya, dia kemudian meninggal selama perang saudara di Spanyol. Pada tanggal 28 Juli 1999, Fina Scarfó mendapatkan kembali surat cinta dari Di Giovanni yang telah dikirim padanya dari penjara, yang selama satu dekade sebelumnya disita oleh polisi.
Teresa Masciulli, istri Giovanni, juga menikah lagi; anak-anak Di Giovanni dari Teresa akhirnya berganti nama. Alejandro Scarfó, setelah menjalani hukuman penjara untuk percobaan pembunuhan Presiden Hoover, dibebaskan dari penjara pada tahun 1935. Ditinggalkan oleh keluarganya dan bahkan oleh tunangannya, ia pergi menghilang ke dalam kegelapan, kepedihan dan kebencian.
Read More......
Jumat, 03 Desember 2010
INTELEJENSIA SWARM*

Bagaimana aksi individual berpengaruh pada perilaku yang kompleks dari sebuah kelompok? Bagaimana ratusan lebah madu membuat keputusan tentang sarang mereka apabila sebagian dari mereka tak sepakat? Apa yang membuat sekelompok besar ikan herring mengoordinasikan gerakan mereka dengan tepat sehingga mampu mendadak bersamaan berkelok hanya dalam waktu sepersekian detik, seakan kelompok tersebut hanyalah sebuah organisme tunggal? Kemampuan kolektif beberapa binatang–tampak menakjubkan bahkan bagi para ahli biologi yang lebih dekat mengenal mereka.
Perilaku individu yang bergerak bersamaan dalam jumlah banyak tapi tanpa koordinasi terpusat (swarm) adalah sebuah topik yang sedang menjadi hip saat para pengamat berusaha untuk memahami gerakan para perusuh di Perancis dalam dekade terakhir ini. Penggunaan SMS misalnya, salah satu inovasi teknologi yang mengarah pada berkembangnya "gerombolan yang pintar" yang diaplikasikan oleh para perusuh.
Tetapi intelijensi swarm, tidak hanya sebuah cara untuk mengoordinasikan pertempuran jalanan, adalah sebuah topik penelitian yang kaya yang sebaiknya didalami oleh para anarkis. Poin pentingnya, adalah karena gerak yang terdiri dari beberapa atau banyak proyek yang begitu kompleks dapat berkoordinasi tanpa memerlukan otoritas sentral. Hal tersebut juga merupakan sesuatu yang didambakan oleh para anarkis. Peter Kropotkin, seorang anarkis jaman lalu, telah memulai penelitian mengenai perilaku tersebut tentang peran mutual-aid dalam proses evolusi.
Kini, para ahli biologi dan ilmuwan komputer (termasuk militer) juga tertarik pada intelijensi swarm ini, dan riset mereka membantu menjelaskan bagaimana keputusan-keputusan penting yang dibuat oleh sekelompok binatang yang berjumlah ribuan, bahkan saat beberapa dari mereka tak sepakat. Itulah keindahan intelijensi swarm. Baik kita berbicara mengenai semut, lebah, bebek, manusia, komposisi perilaku kelompok yang cerdas–kontrol desentral, respon terhadap informasi lokal, aturan simpel–berperan penting dalam penentuan strategi untuk berurusan dengan sesuatu yang teramat kompleks.
Riset-riset yang ada, kini mengarah pada kesimpulan lain: kerumunan cenderung menjadi bijak hanya apabila individu-individu di dalamnya beraksi dengan responsif dan mampu membuat keputusannya sendiri. Sebuah kelompok tidak akan pernah menjadi kuat dan pintar apabila tiap anggota kelompoknya hanya saling mengimitasi, hanya mampu mentaati perintah, atau menunggu seseorang menyuruh mereka melakukan sesuatu. Saat sebuah kelompok menjadi kuat dan cerdas, entah itu kelompok semut ataupun kelompok manusia, kelompok tersebut bergantung pada tiap-tiap anggotanya untuk mampu melakukan bagiannya dengan tepat. Dengan demikian jelas bahwa kesimpulan tersebut tidak hanya dapat diaplikasikan dalam momen kerusuhan. Apabila kita terbiasa bergerak sebagai sebuah kelompok yang terdiri dari individu-individu dan bukan sekedar massa, maka kekuatan itulah yang juga akan mendefinisikan kelompok kita.
Sebuah kelompok binatang, mampu melakukan hal-hal menakjubkan, dari membangun tempat tinggal yang kompleks, hingga menghindari predator yang dapat bergerak cepat dalam momen-momen yang tepat. Mereka melakukannya dengan bergantung pada sensitivitas masing-masingnya atas informasi lokal, pola komunikasi langsung yang dapat diandalkan dan kemampuan individu-individu di dalamnya dalam merespon secara simultan terhadap apapun yang berpengaruh pada kepentingan kelompoknya tapi dengan tetap menjaga perilaku universal kelompoknya tersebut. Beberapa strategi tampaknya memang sederhana dan jelas (hingga tak pelak lagi beberapa individu akan berkata, "Memang ini yang selama ini kami lakukan kok!"), tapi hasilnya jelas kompleks dan sangat efektif. Intelijensi swarm tidak membutuhkan semua individu untuk berpikir serupa atau bahkan sama, intelijensi ini justru merupakan sebuah fakta tentang pola pengambilan keputusan yang memang tak biasa kita kenal. Mengadopsi strategi tersebut jelas akan sangat menguntungkan bagi sebuah kelompok desentral, baik bagi binatang, atau bahkan apabila mampu, bagi kita manusia.
Catatan:
[*] Swarm: (bahasa Inggris) gerakan sekelompok besar individu (baik itu binatang ataupun manusia), bergerak dengan cepat dan dalam jumlah besar.
Referensi:
1. Anti-Massa: Metoda-Metoda Berorganisasi Bagi Kolektif-Kolektif
2. Penelitian yang dilaporkan oleh New York (http://www.nytimes.com/2007/11/13/science/13traff.html?pagewanted=2&_r)
3. Tentang penelitian yang dilakukan oleh Kropotin (http://info.interactivist.net/node/1121)


