Selasa, 14 Oktober 2008

BAYANGAN MASA LALU MENAWAN MASA DEPAN

"A match used to show off like this:
I'm able to set a barn on fire! I can set fire to a petrol tank,
the seat of a ministry, an Etruscan museum, whatever!
Why not just say you're able to light the gas and boil the soup?
We always show off about the worst things.”
—Gianni Rodari: Minimal Fables


Di Indonesia, kita hanya mengenal dua jenis musim: hujan dan kemarau. Begitu juga dengan sejarahnya, penuh dengan kemarau yang lantas dibabat hujan—menetes hingga ke sela-sela, merasuk bahkan memporak-poranda. Kemarau dan hujan, musim yang kadang menguntungkan kadang juga mengenaskan. Tapi di Italia, bagian dari benua Eropa yang terapit di antara Libya dan Yugoslavia, mengenal berbagai macam musim. Musim di mana para pekerja dan aktivis turun ke jalan untuk mengguncang kekuasaan politik. Musim di mana kobaran api perlawanan membuncah di dalam hati para insurgen-insurgen Italia. Antara jangka waktu 2000-2002, gerakan insurgen Italia dimetaforkan dengan nama sebuah musim. Ini adalah la Primavera dei Movimenti atau The Springtime Movements, atau dalam bahasa Indonesianya adalah gerakan musim semi. Bukan pertama kalinya sejarah perlawanan Italia menganugerahkan nama musim pada gerakannya. Di tahun 1969, yang menjadi tahun perjuangan pekerja pabrik yang terbesar di Italia, mengambil nama Autunno Caldo (Hot Autumn) atau gerakan musim gugur yang panas. Sepanas keringat kerja, sepanas hati dari kondisi sosial yang memiskinkan. Maka, seiring musim gugur berganti, mitos-mitos dari semangat perlawanan generasi lalu ini dapat mempercerah lahirnya musim semi, cahaya-cahaya perlawanan yang semakin membesar, menyebar bagai virus yang menghidupkan. Karena bantuan sebuah cerita, sebuah mitos, sebuah dongeng akan kebebasan. Suatu masa di satu musim, di mana semangat akan perubahan sosial berkobar bagai api di jalan-jalan Genoa.


Konflik sosial adalah sesuatu yang endemik dan alami. Karenanya penggunaan metafor musim adalah juga sesuatu yang menghidupkan dan sesuai. Musim kemarau di Indonesia adalah musim yang mematikan dan tidak menyalakan, karena bahasa kita menginginkannya seperti itu. Musim kemarau selalu menjadi cerita-cerita sedih realitas: PHK buruh, kemelaratan, kekeringan, dan kekerasan-kekerasan sosial lainnya. Seakan-akan realitas sosial selalu menjadi syair Wiji Thukul yang mendendam karena kemelaratan yang dialaminya. Orang-orang yang tergabung di dalam partai revolusioner pun memiliki cerminan seperti ini. Berteriak-teriak di depan megafon di bawah terik mentari demi menyuarakan ketertindasan rakyat, kemelaratan orang miskin, sebuah ketidakberdayaan sosial. Tapi drama-drama sedih perlawanan ini semakin memanaskan musim kemarau; mengeringkannya, melelahkannya, di tengah cerita ketidakberdayaan. Sinar mentari itu melemaskan di kala tengah hari. Karena itu kita butuh segelas air dingin bukannya cerita melankolis ketidakmampuan. Satu poin dari konsep manipulatif bunuh diri kelas adalah kepatuhan. Oleh karena itu, pasifitas justru menjadi pemerkuat konsep ideologis ini. Di mana nyala obor dipegang oleh elit-elit revolusioner, sementara yang lain hanya mengikuti dari belakang dalam gelapnya kepatuhan. Lantunan lagu Darah Juang seperti menceritakan kisah menyedihkan sebuah perjuangan.

Seberapa sering api resistensi dan amarah ditelan konsep-konsep buta kita akan kedamaian, tata-krama, dan kesenyapan sosial? Seiring bergantinya musim, hari demi hari, dari musim ke musim kita selalu melebur di dalam bahasa yang melemahkan kita sendiri. Bahasa yang tidak berjiwa besar, bahasa bangsa Timur, bahasa berkasta sudra. Tahun 1965 dan peristiwa PKI, sebuah rentetan pembantaian hingga penghujung abad 20 demi memperkuat jaring-jaring neoliberalisme. Seberapa sering kita dibungkam oleh ketakutan, oleh penguasa, oleh diri kita sendiri. Oleh cerita-cerita paranoia terhadap kekuasaan yang lebih besar dari diri kita sendiri. Oleh konstruksi sosial yang menolak menerima bahwa perlawanan harus bersemi dan kontradiksi harus ditajamkan. Tahun 1998 dan perjuangan berdarah para aktivisnya malah dianugerahi sebagai tragedi. Dan klimaksnya diagungkan sebagai kemenangan demokrasi, yang sebenarnya hanya klimaks dari oposisi-oposisi kekuasaan politik dalam memanipulasi reformasi. Musim hujan yang terlalu diperbuas sebagai kisah romantis heroisme beberapa invididu: kisah sukses reformasi adalah cerita kemenangan para mahasiswa yang kemudian menjadi berdasi setelah teriak-teriak di depan megafon atas nama rakyat. Dan cerita perlawanan pun menjadi sekedar sebuah monumen, sebuah dongeng imajinatif yang buruk, yang ditulis oleh seorang pope.

Yang kita butuhkan sekarang ini adalah sebuah mythopoesis: proses sosial dalam membangun mitos. Yang dimaksud di sini bukannya membuat cerita palsu, tapi cerita yang telah terjadi dan disebarkan, diberitahukan kembali dalam metafora, yang dilakukan oleh berbagai macam komunitas yang luas. Cerita yang mungkin saja dapat melahirkan semacam ritual, semacam semangat akan keberlanjutan dari apa yang kita lakukan sekarang dan apa yang telah dilakukan kemarin. Sebuah tradisi. Yang dalam kata latinnya adalah tradere dan dalam artian bahasa Indonesianya berarti mewariskan sesuatu. Sebuah tradisi yang tidak mengindikasikan adanya kebertetapan, konservatisme, ataupun sebuah respek masa lalu yang dilebih-lebihkan. Tapi tradisi yang mewarisi semangat keberlanjutan akan perlawanan, cerita indah hidupnya kembali resistensi.

Mythopoesis yang dimaksud di sini bukanlah sebuah pengagung-agungan akan masa-masa yang sudah lalu. Bukan pula keinginan buta para kaum Kiri yang ingin menghidupkan kembali mayat Lenin. Pun bukan romantisme para anarkis yang menulis biografi menakjubkan dari Emma Goldman ataupun Bakunin. Mythopoesis bukanlah cerita imajiner yang menghidupkan masa lalu dan melemahkan masa sekarang. Sebaliknya, Mythopoesis adalah cerita dari musim ke musim yang berniat membangkitkan musim yang selanjutnya.

Ini adalah alasan vital mengapa kita butuh Mythopoesis. Kita hidup bersama dengan bercerita dan mendengarkan cerita. Bahasa sehari-hari kita, ingatan kita, imajinasi kita dan kebutuhan kita yang mendalam akan membangun komunitas adalah alasan yang membuat kita merasa menjadi manusia yang hidup. Kita butuh mitos: kita butuh mitos tanpa pahlawan yang harus diikuti ataupun ditolak. Kita butuh mereka untuk membentuk diri kita sendiri, perlawanan kita sendiri.


"Beneath the sentence there are no heroesis hidden a different meaning, its true message: there was no struggle[...] Can you make a film about a struggle without going through the traditional process of creating heroes? It's a new form of an old problem.”
—Michael Foucault, On interview


Post-mortem

Kemarin, perjuangan reformasi menunda pembukaan jalan bagi perubahan sosial yang mendasar. Teriakan-teriakan revolusi sampai mati tidak lebih sekedar lagu penyemangat bagi agenda-agenda kabur reformasi. Mahasiswa-mahasiswa Kiri yang terlalu banyak menggunakan megafon, aktifis-aktifis revolusioner yang ngomong sampah soal kepemimpinan, dan birokrat-birokrat politik yang selalu menjual nama rakyat. Kita berada di bawah kerudung budaya mati. Kita mewariskan sampah dari generasi ke generasi. Dan mitos-mitos perjuangan masih berkeliling di sekitar pahlawan-pahlawan Diponegoro reformasi. Gerakan 98 sudah bertahun-tahun mati, dan kenapa juga sebagian besar dari kita, masih menginginkannya untuk hidup kembali?

Apabila di Italia, setahun seorang aktivis anti-globalisasi, Carlo Giuliani, yang terbunuh oleh polisi diperingati sebagai hari di mana gerakan anti-neoliberalisme di Genoa semakin menguat, mengapa kita harus bersedih-sedih dengan perayaan tangis-menangis Tragedi Mei 98? Media, pemerintah, bahkan militer berlagak menyesali semuanya, dan silahturahmi saling memaafkan pun terjadi, seakan-akan konflik sosial ini hanya masalah remeh salah paham keluarga. Para mahasiswa yang beremblem radikal atau revolusioner pun memaklumi ini semua. Layaknya kalau permasalahan konflik kelas dapat diselesaikan di hari Lebaran.
Apa warisan yang kita dapat dari perjuangan generasi lalu, warisan yang dapat kita adaptasikan dengan kondisi kita sekarang, setelah berbagai tahun-tahun mati yang tidak bergelora, apa yang kita dapat selain hanya fetisisme mahasiwa dan figur-figur heroik semacam Munir, Aung san Su Kyi, bahkan Harry Roesli. Faktanya adalah bahwa 98 dan mitosnya tidak membawa kita kemana-mana, selain puji-puijan berlebihan terhadap momen tersebut.

Di bawah tanah, kultur punk merebak dengan anarkisme. Kolektif demi kolektif bermunculan dan mati tanpa agenda yang benar-benar jelas. Bentuk sporadik yang gagal membangun komunikasi antar scene dan mati tanpa ada perspektif yang jelas. Kolektif anarkis yang masih mempraktekkan dominasi, scene hc/punk yang feodal, dan mahasiwa-mahasiswa revolusioner ala Che Guevara. Kita belum beranjak dari ini semua, kita masih dihantui tradisi lama, kita belum mengerti untuk memisahkan air yang bersih dan yang kotor.

Sebuah idiom berbunyi, Sementara kita membuang bekas air mandinya kita tidak seharusnya membuang bayinya juga.

Mythopoesis berhubungan dengan ini, karena cerita mitos yang baik tidaklah dibentuk dari penerimaan terus-menerus tradisi sebelumnya. Kita butuh cerita mereka untuk didekonstruksikan. Kita membutuhkan penciptaan musim di mana konlik sosial yang vertikal mulai menajam. Kita perlu meninggalkan masa lalu.

Ikonofilia adalah penyakitnya

Apabila perjuangan kemarin telah tergantikan dengan menyuburnya LSM-LSM, apabila seniman radikal hanyalah para pelukis realisme sosialis yang cuma doyan jualan lukisan, apabila gerakan revolusioner hanya berkutat di sekitar PRD (yang Marxis-Leninis) dan mahasiswanya, apabila dominasi kolektif dan imaji otonomi hanya terus-menerus berada di sebuah nama Kontra-Kultura, maka, seperti yang dikatakan oleh Raoul Vaneigem, harapan terakhir dari para penguasa adalah membuat semua orang menjadi pengorganisir ketidakberdayaan diri mereka sendiri.

Hari kemarin, musim yang lalu, sepuluh tahun lewat, berabad lalu kita hidup dan berkembang di dalam kontradiksi. Kita menuai dan layu terbantai, kita berada di ujung senapan dan pedang atau berakhir di kuburan, mungkin juga sungai-sungai dan perkantoran. Tapi kini, baru saja kemarin aku dan kamu saling menukar media bawah tanah yang kita produksi sendiri. Baru kemarin kita berada di pinggir jalanan berbagi teori Marx sampai anarkisme Berkman. Baru kemarin kita meninggalkan nilai-nilai orang tua dan menolak Tuhan, rasanya seminggu lalu aku dan kamu masih sering ngobrol soal neoliberalisme. Waktu itu kita masih mau saja ikut-ikutan demo di bawah bendera merah dan dimarahi oleh koordinator aksi karena kamu keluar dari tali dan saya ikut-ikutan. Baru kemarin kita berdua terpergok di kamar bersama semalaman dan dituduh kumpul kebo. Kemarin kamu bilang kalau kamu terlalu sibuk dengan kerja dan setahun sebelumnya kamu hampir drop-out dari kuliah. Di subuh yang hujan pada waktu itu kita berlima pergi ke pasar ngelobi sayur murah buat Food Not Bombs. Beberapa dari kalian bahkan lari dan meninggalkan gedung kosong tempat kita tidur dan berdiskusi setelah diserang polisi. Dan sekarang kita tercerai berai tanpa ada benang yang mengikat. Di mana cerita-cerita kita, sudahkah tertelan oleh ganasnya musim panas? Sudahkah kita berhenti untuk menulis cerita, menentang penguasa, melecehkan hierarki, menghancurkan konstruksi sosial yang membunuh hasrat kita?

Cerita-cerita kita belum lagi muncul ke permukaan, kawan. Banyak isu bahwa kita telah porak-poranda oleh ide kita sendiri, bahwa kita tidak mampu memecahkan problem hubungan interpersonal kita sendiri, bahwa kita takut akan kontradiksi internal. Faktanya, kita kembali menjadi penonton. Kita telah membenam dalam bahasa dan takjub oleh spektakulernya dunia tontonan. Kita telah membenam sementara militer membantai lagi, kita terus diam dan media mainstream mulai berbicara, memanipulasi. Kita berada di balik kaca kendaraan bermotor yang berbeda dan BBM naik kembali. Mereka melakukan liberalisasi dan merayakan globalisasi dan kita terus tercerai-berai berdiam diri.

Kawan, di beberapa kota di Italia, para aktivis membangun social-center di mana-mana. Mereka bahkan membuat dewan kota melegalkan keberadaan mereka. Tapi ini pun bukanlah sebuah kondisi yang damai. Serangan dari fasis dan polisi masih sering terjadi, dan para aktivis masih sering menghadapi tuntutan pengadilan. Di Montreal, Critical-Mass memenuhi jalanan dan menghentikan lalu lintas kendaraan bermotor, walau hanya dalam rentang waktu yang sementara. Di Chiapas, para pejuang bertopeng, Zapatista, membangun demokrasi langsung dan terang-terangan memerangi neoliberalisme. Di berbagai kapital di dunia, mitos perlawanan mulai bersemi, meramu cerita bagi generasi selanjutnya agar mereka dapat menulis cerita mereka sendiri.

Air dan angin dari konflik sosial telah membawa kita ke banyak pengalaman dan contoh. Di antara pasir dan batu masih banyak bongkah emas masih yang bisa digali. Cerita adalah sekop. Begitulah seharusnya kita menggunakannya. Tapi juga bukan sekedar membuatnya sekedar cerita. Karena, yang dimaksud dengan cerita, pembuatan mitos, adalah sesuatu yang jelas, yang dibuat dari darah, daging, dan kotoran.

0 komentar: